FriendshiP #bagian1

                            FriendshiP                               


        Just because we are not talking, doesn't mean I don't miss you.


     Kalimat itu... mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang selalu menemaniku, sampai akhirnya kita diharuskan berpisah hanya karena sebuah perasaan yang salah. Berpisah karena dia menjauh dariku. Berpisah karena kita berada pada keadaan yang kaku. Bisa dikatakan, hubungan persahabatan kita merenggang. Tidak heran. Tidak jarang memang persahabatan yang pecah karena sebuah rasa. Rasa ingin memiliki, mungkin. Namun sayangnya, apa yang diinginkan hati bertentangan dengan kondisi. Ini yang aku takutkan. Akhirnya terjadi. Persahabatan yang telah terjalin sangat lama dan sejak kecil, harus berhenti sampai di sini.

Huffftt.... (Menghela nafas)
"Hati tidak salah. Persahabatan juga tidak salah. Hati berhak mempunyai rasa apapun dan kepada siapapun. Dan persahabatan? Dua orang insan yang berbeda jenis kelamin juga berhak bersahabat bukan? Lalu apa yang salah? Perasaan mungkin bisa dikatakan perasaan yang salah. Tapi tidak sepenuhnya salah perasaan kan? Ataukah orangnya yang salah? Yang tidak bisa mengkondisikan perasaanya? Tidak juga." Ucapku bertanya-jawab dan berdiskusi kepada diri sendiri seolah diri ini adalah dua orang yang berbeda.

"Reina, kau sedang apa?"  tanya seseorang yang spontan memecahkan lamunanku.

"Eh, Silvi. Tidak sedang apa-apa. Hanya sedang mengscroll up-down laman Instagram." Jawabku seperti semuanya baik-baik saja.

"Aahh jangan bohong. Aku tau kamu kok." Ucapnya mencari-cari jawaban benarku sembari duduk di sampingku.

"Aku hanya kepikiran Ghani. Kenapa sih harus seperti ini Sil? Aku menganggap Ghani sebagai seorang sahabat. Tapi mengapa dia menganggapku lebih dari seorang sahabat? Aku hanya menyayangkan persahabatan kami. Dulu kami sangat dekat sekali. Namun sekarang, berbanding terbalik dengan pernyataan yang tadi." Curhatku kepada Silvi yang merupakan teman baikku.

"Sudahlah Rein, aku tau apa yang sedang kamu rasakan. Mungkin Ghani hanya butuh waktu untuk memahami persahabatan. Mungkin Ghani juga tidak tau mengapa dirinya harus memilih kamu untuk menjadi pujaan hatinya, Rein." Ucap Silvi menenangkanku.

"Iya, terima kasih Sil" ucapku sedikit agak tenang.

"You are welcome." Jawabnya sembari tersenyum lebar.

     Silvi adalah teman baikku. Teman satu kelas juga. Dia menyukai Ghani, tapi Ghani malah menyukaiku. Silvi tidak menyimpan rasa benci ataupun marah kepadaku. Dia malah selalu baik kepadaku. Aku beruntung bisa kenal dengannya. 

"Good Morning everybody!!!" Ucap seorang lelaki dengan nada jenaka yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas yang sontak mengagetkanku dan teman-temanku. Yassh, siapa lagi kalo bukan Mr.Ramley, guru bahasa jawaku yang humoris. "Great! dia berhasil merubah moodku. Untuk sementara waktu, aku terhibur mendengar humornya dan berhenti memikirkan Ghani"


                                           ***

     Pagi-pagi buta, aku sudah bersiap-siap berangkat sekolah dengan memakai seragam almamater dan menggendong tas di pundak sambil mententeng tas kecil di tangan. Tak lupa sepatu pantofelku juga sudah melekat di kakiku bersama dengan kaos kaki. Pertanda aku sudah siap berangkat. Berangkat pagi berharap angkot tidak melaju duluan sebelum menghampiriku dan membawaku bersamanya. Dalam beberapa menit, aku pun sampai di tempat dimana aku biasa menanti angkotku. FYI, aku naik angkot karena aku tidak berangkat ke sekolah bersama Ghani lagi. Biasanya, aku selalu berangkat dan pulang sekolah bersama Ghani naik motor. Sekarang sudah tidak lagi karena aku risih dengan keadaan yang sekarang.

"Hemmmm lama" gumamku.

Setelah menunggu cukup lama, angkot pun muncul juga.
    
"Pak pak! kiri pak!!" Ucapku sambil melambai-lambaikan tangan kiriku pertanda supaya angkot itu berhenti"
        
     Angkot berhenti di hadapanku. Akupun masuk ke angkot itu. Di dalam, aku berjumpa dengan anak-anak sekolah dari berbagai jurusan. Sangat sesak. Duduk berdempetan. Aku kebagian duduk di sebelah seorang laki-laki dan yang aku tau pasti, dia tidak satu sekolah denganku. Seragam kita berbeda. Aku juga belum pernah melihatnya sebelumnya.
Sebelumnya keadaan tampak tenang-tenang saja. Sampai pada suatu waktu, supir angkot itu menginjak pedal rem mendadak yang membuat tubuhku reflek terbanting ke laki-laki di yang ada sebelahku. Yang membuat suasana menjadi hening.

"Maaf maaf. Aku tidak sengaja." Ucapku gugup kepada laki-laki di sebelahku.
"Iya, tidak apa-apa. Lagian ini juga bukan salah kamu kok" Ucapnya gugup juga
"Iya" Jawabku

     Keadaan kembali normal. Angkot melaju dengan cepat. Namun, supir angkot kembali menginjak pedal rem mendadak. Tapi tidak sekuat tadi hentakannya. Aku mencoba menahan tubuhku dengan kaki kanan dan tanganku  agar tubuhku tidak terdorong lagi ke arah laki-laki itu.
Berulang kali kulakukan. Karena berkali-kali terulang seperti itu. Dan aku sangat risih. Tidak tahan juga. Setelah beberapa menit, aku mengalami lagi kejadian itu. Pak sopir menginjak pedal rem mendadak lagi.

Ngiiiikkkkk...

"Sial! lepas kendali. Aku gagal mengontrol diri." (ucapku mengomel dalam hati)
    Tubuhku pun terdorong ke lak-laki itu lagi. Aku tidak berkata apa-apa lagi seolah tidak ada hal yang terjadi. Aku hanya terdiam tertunduk. Orang-orang di angkot memperhatikan kami. Aku hanya acuh dan tidak perduli. Tidak tau kalau laki-laki itu. Aku tak memandangnya wajahnya.
      
Tiba-tiba angkot berhenti. Dan yang turun adalah laki-laki yang ada di sebelahku. 

"Duluan ya, salam kenal namaku Reyhan. Hope we can meet again." Ucapnya tersenyum, lalu pergi.
"Ii.. iiya" jawabku terbata-bata.

     Aku lega dia sudah turun. Tapi penasaran juga dia siapa. Entahlah. Aku tidak mau memikirkannya.
Aku berjalan menuju ke kelas. Di jalan aku berpapasan dengan..



Comments

Post a Comment